PT Pertamina (Persero) menargetkan dampak EBITDA sebesar US$300 juta pada 2027 melalui transformasi digital berbasis AI. Target itu disampaikan Senior Vice President Pertamina Digital Hub, Ignatius Sigit Pratopo, dalam ajang IPA Convex di ICE BSD, Tangerang, Jumat (22/5/2026).
Pertamina menempatkan value creation sebagai fokus utama dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP). Hasilnya mulai terlihat: pada 2024, value creation tercatat lebih dari US$35 juta. Angka itu melonjak menjadi hampir US$80 juta pada 2025, dengan target awal US$50 juta. Pada 2026, target dinaikkan lagi menjadi US$150 juta.
Strategi Digital Factory dan Pertamina Digital Hub
Untuk mencapai target tersebut, Pertamina mengembangkan program Digital Factory. Pendekatan ini bersifat end-to-end di seluruh lini bisnis. Alurnya dimulai dari identifikasi persoalan bisnis, pengembangan Minimum Viable Product (MVP), implementasi solusi digital analytics, hingga scale up ketika solusi terbukti efektif.
Pertamina juga membentuk fungsi khusus bernama Pertamina Digital Hub. Unit ini mengoordinasikan seluruh inisiatif digital analytics dan AI perusahaan. Menariknya, fungsi ini melapor langsung kepada Direktur Utama. Hal itu menunjukkan komitmen manajemen puncak, bukan sekadar proyek anak buah.
Menurut Sigit, implementasi AI di Pertamina tidak dimulai dari teknologi, melainkan dari tantangan operasional. Perusahaan mendalami pain points bisnis terlebih dahulu. Setelah itu, baru menentukan teknologi yang tepat, baik AI, machine learning, analytics, maupun solusi digital lain.
Hasil Nyata di Sektor Hulu
Transformasi digital Pertamina menjangkau seluruh rantai nilai energi: upstream, midstream, hingga downstream. Di sektor hulu, perusahaan memanfaatkan machine learning dan AI melalui program ChanceX. Program ini terbukti meningkatkan rasio keberhasilan eksplorasi di salah satu basin hingga 10 persen.
Pertamina juga mulai menerapkan Key Performance Indicator (KPI) bagi unit bisnis. Langkah ini memastikan realisasi value creation dapat diukur secara jelas dan terstruktur. Tidak ada ruang untuk sekadar laporan aktivitas tanpa dampak.
Pelajaran untuk Perusahaan Menengah Indonesia
Studi kasus Pertamina menawarkan tiga pelajaran penting bagi perusahaan menengah di Indonesia. Pertama, mulailah dari masalah bisnis, bukan dari teknologi. Identifikasi pain points yang paling menyakitkan, lalu cari solusi digital yang tepat. Kedua, bentuk tim khusus yang bertanggung jawab langsung ke pimpinan tertinggi. Ini memastikan transformasi digital tidak tersendat di tengah jalan. Ketiga, tetapkan KPI yang terukur sejak awal. Target value creation yang jelas membuat semua pihak fokus pada hasil, bukan aktivitas.
Bagi perusahaan menengah, langkah awal bisa dimulai dari digitalisasi proses yang paling berdampak pada biaya atau pendapatan. Misalnya, otomatisasi laporan keuangan, analisis data penjualan, atau pemeliharaan aset. Skala tidak harus sebesar Pertamina, tetapi prinsipnya sama: teknologi harus menyelesaikan masalah nyata.
Risiko dan Keterbatasan yang Perlu Diwaspadai
Meski hasilnya impresif, transformasi digital Pertamina tidak lepas dari risiko. Salah satunya adalah ketergantungan pada vendor teknologi asing. Perusahaan menengah yang meniru langkah ini harus mempertimbangkan biaya lisensi dan pemeliharaan yang berkelanjutan.
Risiko lain adalah kesenjangan keterampilan tenaga kerja. AI dan machine learning membutuhkan talenta dengan keahlian khusus. Tidak semua perusahaan mampu merekrut data scientist atau engineer berpengalaman. Pelatihan internal menjadi keniscayaan, tetapi membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit.
Perlu dicatat pula bahwa angka value creation Pertamina berasal dari laporan perusahaan itu sendiri. Belum ada audit independen yang memverifikasi klaim tersebut. Perusahaan menengah yang ingin meniru sebaiknya menyusun metrik yang dapat diaudit sejak awal, agar kredibilitas data terjaga.
Terakhir, transformasi digital bukan proyek sekali jadi. Pertamina sendiri memulai dari target US$35 juta pada 2024 dan baru meningkat secara signifikan dua tahun kemudian. Perusahaan menengah harus sabar dan konsisten, serta siap menghadapi kegagalan di tahap awal. Yang terpenting adalah membangun budaya belajar dan iterasi cepat.

